Alam kita adalah anugerah yang harus
kita manfaatkan bersama-sama dan jangan sampai kita rusak.karena alam membuat
kita menjadi lebih harmoni.bila kita manfaatkan dengan benar tanpa mengotori
alam sekitaranya dengan berbagai benda kaleng dan sejenisnya akan mengotori
alam kita..
kita tahu dampak dari rusaknya alam
bermacam-macam bentuknya dan bisa menyebabkan berbagai bencana seperti
banjir,tanah longsor,gempa bumi yang menyebabkan sunami dan masih banyak lagi
bencana yang diakibatkan kurang pedulikita terhadap lingkungan maupun alam
kita.
Seharusnya kita sebagai anak bangsa
seharusnya kita peduli dan tanggap terhadap lingkungan kita. karena alam sumber
ispirasi suatu bangsa bila alam kita rusak.maka akan mengakibatkan
bermacam-macam fenomena yang luar biasasaya menghimbau bagi pembaca disini
untuk mencinta alam kita ini seperti kita mencintai diri kita sendiri.karena
alam ini bukan kitan musnakan tapi kita manfaatkan buat kita semua dan anak
cucu kita dimasa akan datang.
Demikian sekilas cerpen singkat buat
kalian semua.mudah-mudahan sedikit banyak ada manfaatnya buat kita
bersama.Amin2 allahhuma amin
“Lestari
alamku, lestari desaku
Dimana
Tuhanku menitipkan aku
Nyanyi
bocah-bocah di kala purnama
Nyanyikan
pujaan untuk nusa
Damai
saudaraku suburlah bumiku
Kuingat
ibuku dongengkan cerita
Kisah
tentang jaya nusantara lama…
Tenteram
karta raharja di sana
Mengapa
tanahku rawan kini
Bukit-bukitpun
telanjang berdiri…
Pohon
dan rumput enggan bersemi kembali
Burung-burung
pun malu bernyanyi”
Petikan
lagu berjudul “Berita Cuaca” karya Gombloh di atas seharusnya menjadi lagu wajib
tambahan setiap lurah desa di seluruh nusantara. Dinyanyikan setiap pagi,
didendangkan setiap senja dan dijadikan lagu nina bobo setiap malam. Terus
setiap hari, sejak sebelum menjadi lurah desa, selama menjadi lurah desa dan
sesudah menjadi lurah. Dengan kata lain, ini lagu wajib tambahan bagi setiap
warga desa.
Gombloh
bukan lurah desa dan tak pernah menjadi lurah desa. Ia banyak melewatkan
hidupnya di jalanan perkotaan yang keras sebagai pengamen.
Ia
menjalani hidupnya di antara asap polusi industri, asap knalpot mobil-mobil
yang berseliweran dan sampah-sampah jalanan.
Dengan
semua latar belakang itu, Gombloh jelas sangat mencintai desa. Seandainya ia
menjadi seorang lurah desa, ia bisa dipastikan akan berjuang menjadi seorang
lurah desa yang hebat, yang berjuang meiindungi desanya dari terjangan arus
negatif modernisme.
Tak
perlu mencari argumen untuk menguatkan dugaan ini. Tak perlu para lurah desa
memperdebatkan hipotesa ini. Jika ada lurah desa yang memperdebatkannya maka otomatis ia
menjadi lurah desa yang suka bicara saja. Ini adalah sebuah inspirasi yang
jelas-jelas tak perlu diperdebatkan.
Para
lurah desa harus bisa dan mau belajar dari siapa saja, termasuk dari seorang
penyanyi jalanan yang akhirnya menjadi legenda karena semangat cinta tanah air
yang selalu muncul dalam syair-syair lagunya. Para lurah desa tak perlu ragu
untuk mengambil pelajaran yang baik dari semua sumber demi tercapainya kemajuan
dan kesejahteraan desa.
Demi
tercapainya desa mandiri yang berdaulat. Untuk itu, mari pertama-tama kita
jadikan “Berita Cuaca” sebagai lagu wajib tambahan.
Selanjutnya,
ketika pelajaran dari Gombloh mengkristal di hati para lurah desa, soal-soal
mendasar tentang bagaimana memimpin masyarakat desa pasti akan teratasi.
Berbagai
contoh kegagalan para pemimpin yang tergoda kekuasaan hingga menghilangkan
tanah tempat tumbuhnya harapan rakyat, Insya Allah tak kan terjadi. Para lurah
desa akan menyambut keinginan rakyat seperti yang didendangkan Gombloh.
“Kuingin
bukitku hijau kembali
semua
rumput pun tak sabar menanti
doa
kan kuucapkan hari demi hari
dan
kapankah hati ini lapang diri…”
No comments:
Post a Comment